BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
belakang
Kanekes sebuah desa yang sejuk, nyaman, dan tentram. Jauh dari
suara bising hiruk-hiruk suasana kota yang pengap. Lokasinya berada di dataran
tinggi pegunungan kendeng, Banten Selatan.
Di bidang pemerintahan, hokum adat, budaya masyarakatnya cukup
menarik. Begitu pula dengan bahasa yang digunakan, agama yang di anut dan
busana yang dikenakan. Baduy hingga saat ini konsisten memegang teguh adat
istiadat dan budayanya secara turun temurun.
Perubahan tersebut dikenal sebagai perubahan
sosial atau social change. Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan
budaya, namun perubahannya hanya mencakup kesenian, ilmu pengetahuan,
teknologi, filsafat, kecuali organisasi sosial masyarakatnya. Perubahan sosial
tersebut bardampak pada munculnya semangat-semangat untuk menciptakan produk
baru yang bermutu tinggi dan hal inilah yang menjadi dasar terjadinya revolusi
industri, serta kemunculan semangat asketisme intelektual. Menurut Prof
Sartono, asketisme dan expertise ini merupakan kunci kebudayaan
akademis untuk menuju budaya yang bermutu.
1.2.
Rumusan
Masalah
Dari uraian latarbelakang dapat saya rumuskan masalah sebagai
berikut :
1.2.1.
Bagaimana
kehidupan orang baduy?
1.2.2.
Apa
saja alat music orang baduy?
1.2.3.
Apa
kepercayaan orang baduy?
1.2.4.
Apa pengertian masyarakat modern?
1.2.5.
Bagaimana
ciri-ciri masyarakat modern?
1.2.6.
Bagaimana
kehidupan masyarakat modern?
1.3.
Tujuan
1.3.1.
Dapat
mengetahui kehidupan orang baduy
1.3.2.
Dapat
mengetahui alat music orang baduy
1.3.3.
Dapat
mengetahui kepercayaan orang baduy
1.3.4.
Dapat
mengetahui masyarakt modern
1.3.5.
Dapat
mengetahui ciri-ciri masyarakat modern
1.3.6.
Dapat
mengetahui kehidupan masyarakat modern
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Baduy
2.1.1.
Hidup
dalam kesederhanaan
Orang
baduy mudah dikenali dari penampilannya yang sederhana dari busana yang
dikenakan mudah diterka dari mana mereka berasal. Warna putih dan hitam
merupakan warna abadi yang membedakan status social mereka.
Kaum
pria Baduy Dalam disebut kajeroan, biasa mengenakan busana atasan putih
yang disebut jamang, sedangkan sarung tenun hitam bergaris putih atau
keabuan yang disebut samping aros dan ikat kepala warna putih yang
disebut telekung.
Sedangkan
pria baduy luar disebut penamping selalu mengenakan kemeja kampret dua rangkap. Warna putih di dalam dan warna
hitam diluar. Bersarung poleng hideung dengan ikat pinggang adu mancung. Ikat
kepalanya terbuat dari kain merong yang bermotif batik biru gelap.
Bagi
masyarakat baduy, alat tubuh yang digunakan untuk berjalan dianggap paling
berjasa dalam hidupnya. Sebab itu jangan heran bila melihat orang baduy tidur
dengan bantal yang diletakan di bagian kaki. Orang baduy bilang “Kami mah nu
gawe suku lain polo” artinya yang banyak bekerja kaki bukan otak.
Orang
baduy tidak banyak bicara bila tidak dimulai. Jawabannya yang keluar tidak
pernah panjang lebar, singkat saja. Kalau perlu cukup dengan mengatakan ya atau
tidak. Dan jawaban teu wasa bila tidak diketahui atau tak kuasa
mengatakan.
Umumnya
orang baduy selalu menutup diri dan menaruh curiga terhadap orang asing yang
baru dikenalnya. Dialog terjadi bila sudah saling mengenal. Dalam setiap
perdebatan biasanya tak mau mengalah dan jawabannya bagaikan seorang diplomat.
Kebiasaan
orang baduy, baik pria maupun wanita tak pernah santai. Seluruh keluarga biasa
bekerja keras membanting tulang. Tetapi terbatas pada lahan warisan leluhur
yang tak pernah bertambah luasnya.
Proses
kerja huma makan waktu cukup lama dan sarat adat yang dimulai serentak di
seluruh desa kanekes. Secara rinci proses kerja itu meliputi nawaras,
nyacar, nukuh, ganggang, ngaduruk, ngaseuk, ngored, ngirip, sawan, mipit, dan
dibuat.
2.1.2.
Alat
musik tradisional
Sejak
berabad-abad masyarakat Baduy telah mengenal kesenian dan beberapa alat music.
Sesuai dengan pola hidup mereka yang sederhana, alat music yang mereka
milikipun amat sederhana. Terbuat dari bahan kayu, bamboo dan kulit serta
pelapah daun yang mudah diperoleh dari hutan sekitar yang mereka tinggal.
Alat-alat
music yang dibuat terdiri dari seperangkat angklung, seperangkat dogdog,
suling, rendo, kecapi dan karinding.semua lat music yang dimiliki orang baduy
hanya dapat dimainkan pada waktu-waktu tertentu dan benda seni itu dibuat tidak
sembarangan. Harus dicari waktu, tanggal, hari, bulan yang baik menurut
perhitungan kalender mereka.
Menurut
Artje, pembuat angklung yang paling jempolan di desanya tinggal di kampong
cikartawarna dan cibeo, baduy dalam. Namanya Ki Atis dan Ki Kainte yang memiliki kepandaian turun
temurun dari warisan orang tuanya.
Angklung adalah kesenian yang dibuat dari bamboo yang
khusus diambil dari hutan bamboo yang banyak terdapat di kawasan larangan.
Tepatnya dekat situs purbakala ARCA DOMAS yang dikeramatkan orang
baduy. Ukuran yang paling besar tingginya 1,35 m dan lebarnya 0,60 m, sedangkan
yang paling kecil tingginya 0,55 m dan lebarnya 0,35 m.
Dogdog lojor yang paling
besar disebut bedug, kemudian yang kecil disebut talinting dan yang paling
kecil disebut ketug. Ukuran yang paling besar panjangnya 0,53 m dengan garis
tengah 0,14 m dan ukuran yang sedang 0,40 m dan diameternya 0,13 serta yang
paling kecil berukuran 0,20 m dan diameternya 0,12 m.
Kecapi yang terbuat
dari kayu lame yang ringan dengan jumlah senar sebanyak 11 buah dimainkan
dengan maksud untuk mengikat hati kaum wanita. Sedangkan karinding terbuat dari bahan daun yang dikeringkan.
2.1.3.
Kepercayaan
orang baduy
1.
Sunda
wiwitan
Dalam
tradisi setempat agama orang baduy disebut sunda wiwitan yang dianggap agama
tertua didunia. Mereka percaya kepada Gusti Nu Maha Suci, penguasa alam
semesta yang mengustus nabi adam ke bumi mengatur kehidupan orang baduy.
Sedangkan nabi Muhammad diutus untuk mengatur umat manusia di dunia diluar
orang baduy.
Sebagai
tempat sucinya adalah “ARCA DOMAS” atau sasaka Domas yang setiap
tahun diziarahi untuk upacara ritual. Tempat suci itu berada di atas bukit
pegunungan kendeng dalam hutan lebat di hulu sungai ciujung. Tidak sembarang
orang boleh masuk ke sana, kecuali mendapat izin dari puun pemimpin orang
baduy.
Upacara
keagamaan yang bersifat religio agraris tampak jelas terlihat pada upacara
tanam padi yang disebut ngaseuk, kawulu, dan ngalaksa. Ngaseuk tidak
sekedar menanam padi di huma, tetapi upacara itu memiliki makna yang penting
dalam kehidupan mereka. Setiap kegiatan harus melalui tahapan upacara memohon
berkah kepada sang pencipta, SANGHYANG BATARA TUNGGAL
Sebelum
dilakukan upacara tanam padi terlebih dahulu harus mencari wajtu yang tepat dan
lokasi yang cocok. Biasanya dimulai bulan sapar perhitungan kalender mereka.
Bulan Kanem seluruh pohon
yang dahan dan rantinya mengganggu sinar matahari harus ditebang. Penebangan
dilakukan harus pada hari baik, yaitu selasa, rabu, dan sabtu. Ngaseuk peretama
kali harus dilakukan di huma serang pada bulan kapitu. Kemudian di huma
puun pada bulan kadalapan, lalu bulan kasalapan di huma masing-masing warga
kajeroan dan baru di bulan kasapuluh di huma warga panamping.
2.2.
Modernisasi
2.2.1.
Pengertian
masyarakat modernisasi
Masyarakat modern adalah
masyarakat yang sebagian besar warganya mempunyai orientasi nilai budaya yang
terarah ke kehidupan dalam peradaban masa kini. Pada umumnya masyarakat modern
tinggal di daerah perkotaan, sehingga disebut masyarakat kota. Namun tidak
semua masyarakat kota tidak dapat disebut masyarakat modern,sebab orang kota
tidak memiliki orientasi ke masa kini, misalnya gelandangan.
2.2.2.
Ciri-ciri
masyarakat moderni
1.
Hubungan antar manusia terutama
didasarkan atas kepentingan-kepentingan pribadi.
2.
Hubungan dengan masyarakat lain
dilakukan secara terbuka dengan suasana yang saling memepengaruhi
3.
Keprcayaan yang kuat akan Ilmu
Pengetahuan Teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat
4.
Masyarakatnya tergolong ke dalam
macam-macam profesiyang dapat dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga pendidikan,
keterampilan dan kejuruan
5.
Tingkat pendidikan formal pada
umumnya tinggi dan merata.
6.
Hukum yang berlaku adalah hukum
tertulis yang sangat kompleks
7.
Ekonomi hamper seluruhnya
merupakan ekonomi pasar yang didasarkanatas penggunaan uangdan alat-alat
pembayaran lain.
2.2.3.
Kehidupan
masyarakat modern
Pada kehidupan masyarakat modern,
kerja merupakan bentuk eksploitasi kepada diri, sehingga mempengaruhi pola
ibadah, makan, dan pola hubungan pribadi dengan keluarga.
Sehingga dalam kebudayaan
industri dan birokrasi modern pada umumnya, dipersonalisasi menjadi pemandangan
sehari-hari. Masyarakat modern mudah stres dan muncul penyakit-penyakit baru
yang berkaitan dengan perubahan pola makanan dan pola kerja.
Yang terjadi kemudian adalah
dehumanisasi dan alienasi atau keterasingan, karena dipacu oleh semangat kerja
yang tinggi untuk menumpuk modal. Berger menyebutnya sebagai “lonely
crowd” karena pribadi menemukan dirinya amat kuat dalam kehidupan
bermasyarakat. Dalam kebudayaan industrialisasi, terus terjadi krisis. Pertama,
kosmos yang nyaman berubah makna karena otonomisasi dan sekularisasi sehingga
rasa aman lenyap. Kedua masyarakat yang nyaman dirobek-robek karena individu
mendesakkan diri kepada pusat semesta, ketiga nilai kebersamaan goyah, keempat
birokrasi dan waktu menggantikan tokoh mistis dan waktu mitologi.
Para penganut paham pascamodern
seperti Lyotard pernah mengemukakan perlunya suatu jaminan meta-sosial, yang
dengannya hidup kita dijamin lebih merdeka, bahagia, dan sebagainya. Khotbah
agung-nya (metanarasi) ini mengutamakan perlunya new sensibility bagi
masyarakat yang terjebak dalam gejala dehumanisasi budaya modern.
Kebiasaan dari masyarakat modern
adalah mencari hal-hal mudah, sehingga penggabungan nilai-nilai lama dengan
kebudayaan birokrasi modern diarahkan untuk kenikmatan pribadi. Sehingga,
munculah praktek-peraktek kotor seperti nepotisme, korupsi, yang menyebabkan
penampilan mutu yang amat rendah.
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
1.
Baduy
a.
Hidup
dalam kesederhanaan
-
Kaum
pria Baduy Dalam disebut kajeroan, mengenakan busana yang disebut jamang
dan sarung tenun hitam bergaris disebut samping aros.ikat kepala disebut
telekung.
-
pria
baduy luar disebut penamping, mengenakan kemeja kampret, dan sarung
disebut poleng hideung dan ikat kepala adu mancung
b.
alat
music tradisional orang baduy
-
angklung
-
dogdog
-
suling
-
rendo
-
kacapi
-
karinding
c.
kepercayaan
orang baduy
-
sunda
wiwitan
-
nabi
adam untuk mengatur orang baduy sedangkan nabu Muhammad untuk mengatur selain
orang baduy.
-
tempat
suciny adalah arca domas.
2.
Modernisasi
a.
Modernisasi
adalah masyarakat
yang sebagian besar warganya mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke
kehidupan dalam peradaban masa kini.
b.
Ciri-ciri masyarakat modern
-
Hubungan antar manusia terutama
didasarkan atas kepentingan-kepentingan pribadi.
-
Hubungan dengan masyarakat lain
dilakukan secara terbuka dengan suasana yang saling memepengaruhi
-
Keprcayaan yang kuat akan Ilmu
Pengetahuan Teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat
-
Masyarakatnya tergolong ke dalam
macam-macam profesiyang dapat dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga pendidikan,
keterampilan dan kejuruan
-
Tingkat pendidikan formal pada
umumnya tinggi dan merata.
-
Hukum yang berlaku adalah hukum
tertulis yang sangat kompleks
-
Ekonomi hamper seluruhnya
merupakan ekonomi pasar yang didasarkanatas penggunaan uangdan alat-alat pembayaran
lain.
c.
Kehidupan masyarakat modern
Kebiasaan dari masyarakat modern
adalah mencari hal-hal mudah, sehingga penggabungan nilai-nilai lama dengan
kebudayaan birokrasi modern diarahkan untuk kenikmatan pribadi. Sehingga,
munculah praktek-peraktek kotor seperti nepotisme, korupsi, yang menyebabkan
penampilan mutu yang amat rendah.
3.2.
Saran
Penulis
menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan
kekurangan maka dari itu penulis mengharapkan krtik dan saran dari semua pihak
demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat,1985
: “pengantar ilmu antropologi”. Jakarta. Aksara Baru.
Djoewisno,
1988: “potret kehidupan masyarakat baduy”. Jakarta. khas studio.
Bakker, JWM. 1999. Filsafat
Kebudayaan Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Kanisius.
Dewantara, Ki Hajar. 1994. Kebudayaan.
Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi
Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers
Hakim Lukman.
2012:”Baduy Dalam Selubung Rahasia”. Biro Humas dan Protokol Setda
Provinsi Banten.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar