BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat penting khususnya dalam
menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Itu karena secara prinsip, guru
memegang dua tugas sekaligus masalah pokok, yakni pengajaran dan pengelolaan
kelas.Tugas sekaligus masalah pertama, yakni pengajaran, dimaksudkan segala
usaha membantu murid dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sebaliknya, masalah
pengelolaan berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi
sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif
dan efisien demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Kegagalan seorang guru mencapai tujuan
pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas.
Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak
sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan.
Pengelolaan kelas bukanlah masalah yang berdiri
sendiri, tetapi terkait dengan berbagai faktor. Permasalahan anak didik adalah
faktor utama yang dilakukan guru tidak lain adalah untuk meningkatkan
kegairahan murid baik secara berkelompok maupun secara individual.
Keharmonisan hubungan guru dan anak didik,
tingginya kerjasama diantara murid tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya
interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam
rangka pengelolaan kelas.(Djamarah 2006:179).
1.2. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dikemukakan rumusan masalah
sebagai berikut :
1.2.1 Apa
pengertian pengelolaan kelas?
1.2.2 Bagaimana
seorang guru menciptakan pendekatan – pendekatan dalam pengelolaan kelas?
1.2.3 Apa
saja macam-macam pendekatan pengelolaan kelas?
1.3. Tujuan
1.3.1 Mengetahui seorang guru
menciptakan pendekatan-pendekatan dalam pengelolaan kelas.
1.3.2.
Mengetahui macam-macam pendekatan
pengelolaan kelas.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
Pengelolaan Kelas
Suharsimi
Arikunto (1988) suatu usaha yang dilakukan guru untuk membantu menciptkan
kondisi belajar yang optimal.
Pengertian
lain dikemukaan sebagai proses seleksi tindakan yang dilaljukan guru dalam
funsinya sebagai penanggung jawab kelas dan seleksi penggunaan alat-alat
belajar yang tepat sesuai masalah yang ada dan karakteristik kelas yang
dihadapi.
Menurut definisi operasional, penyediaan
fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar murid yang berlangsung pada
lingkunagan social, emosional, dan intelektual anak dalam kelas menjadi sebuah
lingkungan belajar yang membelajarkan.
Pengertian lain menyatakan sebagai usaha yang
dengan sengaja dilakukan oleh guru agar anak didik dapat belajar secara efektif
dan efisien guna mencapai tujuan pembelajaran.
Pengelolaan kelas berbeda dengan pengelolaan
pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu pembelajaran.
Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk
menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses
belajar (pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang
menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh
peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif),
didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas.
Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas,
yaitu :
1. Masalah Individual :
- Attention
getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).
- Power
seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan)
- Revenge
seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam).
- Helplessness (peragaan
ketidakmampuan).
Keempat masalah individual tersebut akan tampak
dalam berbagai bentuk tindakan atau perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan
merugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat merugikan orang lain atau kelompok.
2. Masalah Kelompok :
- Kelas
kurang kohesif, karena alasan jenis kelamin, suku, tingkatan sosial
ekonomi, dan sebagainya.
- Penyimpangan
dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya.
- Kelas
mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya.
- "Membombong”
anggota kelas yang melanggar norma kelompok.
- Kelompok
cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
- Semangat
kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru, karena menganggap tugas
yang diberikan kurang fair. Kelas kurang mampu menyesuakan diri dengan
keadaan baru.
Untuk memperkecil masalah gangguan dalam
pengelolaan kelas hendaknya guru bersikap seperti yang dikemukakan oleh
Djamarah (2006 : 185) yaitu (1) Hangat dan antusias, guru yang hangat dan akrab
pada murid akan menunjukkan antusias pada tugasnya, (2) Menggunakan kata –
kata, tindakan, cara kerja dan bahan – bahan yang menantang akan meningkatkan
kegairahan murid untuk belajar, (3) Bervariasi dalam penggunaan alat atau media
pola interaksi antara guru dan murid, (4) Guru luwes untuk mengubah strategi
mengajarnya, (5) Guru harus menekankan pada hal – hal yang positif dan
menghindari pemusatan perhatian pada hal – hal yang negatif dan (6) Guru harus
disiplin dalam segala hal.
Tipe kepemimpinan yang otoriter harus diubah
menjadi lebih demokratis karena tipe kepemimpinan otoriter menumbuhkan sikap
agresif tetapi murid hanya aktif kalau ada guru dan kalau guru yang demokratis
maka semua aktivitasnya akan menurun. Tipe kepemimpinan guru yang demokratis lebih
mungkin terbinanya sikap persahabatan guru dan murid dengan dasar saling
mempercayai. Untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal guru
harus menempatkan diri sebagai model, pengembang, perencana, pembimbing dan
fasilitator.
2.3. Macam-macam
pendekatan
Guru sebagai pengelola kelas sudah menerapkan
tiga pendekatan dalam pengelolaan kelas yaitu pendekatan kekuasaan,
pendekatan pengajara, pendekatan kerja kelompokdan pendekatran elektis
atau pluralistic.
1. Pendekatan Kekuasaan
Pendekatan kekuasaan seperti yang diuraikan
oleh Djamarah ( 2006 : 179 ) guru menciptakan dan mempertahankan situasi
disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut murid untuk
mentaatinya. Di dalam kelas ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati
anggota kelas.
2. Pendekatan Pengajaran
Pendekatan pengajaran, pendekatan ini
didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam perencanaan dan pelaksanaannya akan
mencegah munculnya masalah tingkah laku murid dan memecahkan masalah itu bila
tidak bisa dicegah.
3. Pendekatan Kerja Kelompok
Pendekatan kerja kelompok, dalam pendekatan ini
guru menciptakan kondisi – kondisi yang memungkinkan kelompok yang produktif,
selain itu guru juga harus dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik.
4. Pendekatan elektis atau pluralistic
Ketiga pendekatan tersebut oleh guru
digabungkan digunakan untuk mengelola kelas. Sehingga tercipta pendekatan
elektis atau pluralistic. Menurut Djamarah ( 2006 : 18 ) Pendekatan elektis
yaitu guru kelas memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang
dihadapi dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi
yang lain mungkin mengkombinasikan ketiga pendekatan tersebut.
Pendekatan elektis (electic approach) ini
menekankan pada potensialitas, kreatifitas, dan inisiatif wali atau guru kelas
dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang
dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan
salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengkombinasikan dan atau
ketiga pendekatan tersebut. Pendekatan elektis disebut juga pendekatan
pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam
pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan
suatu kondisi memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan
efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai
dengan kemampuan dan selama maksud dan penggunaannnya untuk pengelolaan kelas
disini adalah suatu set (rumpun) kegiatan guru untuk menciptakan dan
mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar
berjalan secara efektif dan efisien.
Selain ketiga pendekatan yang disebutkan diatas
menurut pendapat lain ada yang mengatakan adanya pendekatan ancaman, pendekaran
resep, pendekatan perubahan tingkah laku, pendekatan kebebasan, dan Pendekatan
sosio-emosional
5.
Pendekatan Ancaman
Dari
pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai
suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Tetapi dalam mengontrol
tingkah laku anak didik dilakukan dengan cara memberi ancaman, misalnya
melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
6. Pendekatan
Resep
Pendekatan
resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat
menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru
dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar
itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan
guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep
7. Pendekatan
Perubahan Tingkah Laku
Sesuai
dengan namanya, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah
tingkah laku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku anak
didik yang baik, dan mencegah tingkah laku yang kurang baik. Pendekatan
berdasarkan perubahan tingkah laku (behavior modification approach) ini
bertolak dari sudut pandangan psikologi behavioral.Program atau kegiatan yang
yang mengakibatkan timbulnya tingkah laku yang kurang baik, harus diusahakan
menghindarinya sebagai penguatan negatif yang pada suatu saat akan hilang dari
tingkah laku murid atau guru yang menjadi anggota kelasnya. Untuk itu, menurut
pendekatan tingkah laku yang baik atau positif harus dirangsang dengan
memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan senang atau puas.
Sebaliknya, tingkah laku yang kurang baik dalam melaksanakan program kelas
diberi sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan perasaan tidak puas dan pada
gilirannya tingkah laku tersebut akan dihindari.
8. Pendekatan
Kebebasan
Pengelolaan
diartikan secara suatu proses untuk membantu anak didik agar merasa bebas untuk
mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja. Peranan guru adalah
mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik.
9. Pendekatan
Sosio-Emosional
Pendekatan
sosio-emosional akan tercapai secarta maksimal apabila hubungan antar pribadi
yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan tersebut meliputi hubungan antara
guru dan murid serta hubungan antar murid. Didalam hal ini guru merupakan kunci
pengembangan hubungan tersebut. Oleh karena itu seharusnya guru mengembangkan
iklim kelas yang baik melalui pemeliharaan hubungan antar pribadi di kelas.
Untuk terrciptanya hubungan guru dengan murid yang positif, sikap mengerti dan
sikap ngayomi atau sikap melindungi.
Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan
pentingnya sikap tulus dari guru (realness, genuiness, congruence);
menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance, prizing,
caring, trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic
understanding).
Sedangkan Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa
dalam memecahkan masalah, guru berusaha untuk membicarakan situasi, bukan
pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan;
serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian.
Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa
guru seyogyanya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan
masalah yang dihadapi; menganalisis dan menilai masalah; menyusun rencana
pemecahannya; mengarahkan peserta didik agar committed terhadap rencana
yang telah dibuat; memupuk keberanian menanggung akibat "kurang
menyenangkan”; serta membantu peserta didik membuat rencana penyelesaian baru
yang lebih baik.
Sementara itu, Rudolf Draikurs mengemukakan
pentingnya Democratic Classroom Process, dengan memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab; memperlakukan peserta
didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala
konsekuensinya; dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati
tata aturan masyarakat.
Karena
itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang sangat penting dikuasai
dalam rangka proses pembelajaran. Karena itu maka setiap guru dituntut memiliki
kemampuan dalam mengelola kelas.
Usman
dalam salah satu bukunya mengemukakan bahwa suatu kondisi belajar yang optimal
dapat tercapai jika guru mampu mengatur murid dan sarana pembelajaran serta
mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan
pengajaran. Di sini, jelas sekali betapa pengelolaan kelas yang efektif
merupakan prasyarat mutlak bagi terciptanya proses belajar-mengajar yang
efektif pula.
Berdasarkan
pendapat di atas, jelas betapa pentingnya pengelolaan kelas guna menciptakan
suasana kelas yang kondusif demi meningkatkan kualitas pembelajaran.
Pengelolaan kelas menjadi tugas dan tanggung jawab guru dengan memberdayakan
segala potensi yang ada dalam kelas demi kelangsungan proses pembelajaran. Hal
ini berarti setiap guru dituntut secara profesional mengelola kelas sehingga
tercipta suasana kelas yang kondusif mulai dari awal hingga akhir pembelajaran.
Penciptaan
suasana kelas yang kondusif guna menunjang proses pembelajaran yang optimal
menuntut kemampuan guru untuk mengetahui, memahami, memilih, dan menerapkan
pendekatan yang dinilai efektif menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam
menunjang proses pembelajaran yang
optimal. Setidaknya ada sembilan pendekatan yang bisa dilakukan oleh guru untuk
pengelolaan kelas.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pengertian lain
tentang pengelolaan kelas menyatakan sebagai usaha yang dengan sengaja
dilakukan oleh guru agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien
guna mencapai tujuan pembelajaran.
Sikap Guru dan Pendekatan yang
Digunakan Dalam Pengelolaan Kelas sebagai berikut :(1) Hangat dan antusias, guru
yang hangat dan akrab pada murid akan menunjukkan antusias pada tugasnya, (2)
Menggunakan kata – kata, tindakan, cara kerja dan bahan – bahan yang menantang
akan meningkatkan kegairahan murid untuk belajar, (3) Bervariasi dalam
penggunaan alat atau media pola interaksi antara guru dan murid, (4) Guru luwes
untuk mengubah strategi mengajarnya, (5) Guru harus menekankan pada hal – hal
yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal – hal yang negatif
dan (6) Guru harus disiplin dalam segala hal.
Manajemen kelas dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran di kelas karena situasi dan kondisi kelas memungkinkan
peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
Berbagai pendekatan-pendekatan
pengelolaan kelas
1. Pendekatan
Kekuasaan
2. Pendekatan Pengajaran
3. Pendekatan kerja kelompok
4. Pendekatan elektis atau pluralistic
5. Pendekatan Ancaman
6. Pendekatan Resep
7. Pendekatan perubahan tingkah laku
8. Pendekatan Kebebasan
9. Pendekatan Sosio-Emosional
3.2. Saran
Di masa yang akan datang, diharapkan sistem manajemen kelas
agar lebih ditingkatkan lagi. Perkembangan pembelajaran di dunia global semakin
pesat, oleh karena itu guru kelas diwajibkan untuk memiliki kompetensi khusus
dalam mengelola kelas agar suasana belajar yang menyenangkan, efektif dan
efisien dapat terlaksana dengan baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Rachman,
Maman. 1998. Manajemen Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar