Sabtu, 28 Oktober 2017
Pengertian Pendidikan
A. Apa yang di maksud dengan pendidikan menurut Para Pakar dan UU ?
a. Menurut Undang-undang
1. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual ke Agamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahklak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, Bangsa dan Negara.
b. Pendidikan menurut Para Pakar
1. Menurut Ki Hajar Dewantara
Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
2. Menurut John Dewey
Pendidikan adalah pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual, dan emosional kearah alam dan sesama manusia.
3. Menurut J.J. Rousscau
Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang ada pada masa kanak-kanak sampai remaja yang nantinya akan dibutuhkan pada saat kita dewasa nanti
4. Menurut Langeveld
Pendidikan adalah suatu upaya serta usaha yang dilakukan oleh manusia yang sudah dewasa dalam membimbing manusia yang belum dewasa kearah kedewasaan.
B. Objek Pendidikan
Obyek pendidikan adalah kekuatan kepribadian yang bersifat religious potensi atau bakat yang teraktualisasi dalam bentuk keahlian peserta didik, atau juga meliputi tiga arah kognitif, apektif, dan psikomotorik. (UU pasal 3 No. 20 Tahun 2003).
C. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan yaitu berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (UU Pasal 3 No. 20 Tahun 2003)
D. Lembaga-lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan (baik formal, non formal atau informal) adalah tempat transfer ilmu pengetahuan dan budaya (peradaban).
a. Lembaga Pendidikan Formal
Dalam Undang-undang No 20 Tahun 2003 pasal 14 dijelaskan bahwa jenjang pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstuktur dan berjenjang yang terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
b. Lembaga Pendidikan Non Formal
Dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 pasal 26 dijelaskan bahwa Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstuktur dan berjenjang.
c. Lembaga Pendidikan Informal
Dalam Undang-undang No 20 Tahun 2003, dijelaskan bahwa pendidikan informal adalah pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
E. Komponen-komponen pendidikan
Komponen-komponen yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan atau terlaksananya proses mendidik minimal terdiri dari 4 komponen yaitu
a. Tujuan Pendidikan
b. Peserta Didik
c. Isi Pendidikan
d. Konteks yang mempengaruhi suasana pendidikan
F. Tanggung Jawab Pendidikan
Tanggung jawab pendidikan apabila dilihat dari sudut pandang pengelolaan merupakan tanggung jawab pemerintah melalui mentri pendidikan. Sedangkan dilihat dari sudut pandang hak masyarakat secara umum berhak ikut serta berkontribusi, mengawasi, mengontrol dan mengevaluasi penyelenggaraan pendidikan.
G. Aliran-aliran dalam pendidikan
Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam membangun karakter manusia. Namun, dalam perkembangannya, pendidikan sering dianggap tidak penting bahkan dianggap tidak diperlukan. Akan tetapi, pendidikan pada waktunya menempati posisi penting dalam kehidupan. Saat manusia sadar, bahwa pendidikan merupakan aspek luar yang membangun keterampilan dan kemampuan manusia lain. Fase-fase tersebut dapat dilihat dari teori-teori pendidikan yang muncul, mulai dari teori empiris, nativisme, naturalism, dan konvergensi. Masing-masing teori menyampaikan kekurangn dan kelebihan pendidikan serta bagaimana peran pendidikan dalam kehidupan masyarakat.
a. Nativisme
Aliran nativisme berasal dari kata natus (lahir); nativis(pembawaan) yang ajarannya memandang manusia (anak manusia) sejak lahir telah membawa sesuatu kekuatan yang di sebut potensi (dasar). Dengan kata lain aliran narativisme berpandangan segala sesuatunya ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir, jadi perkembangan individu semata-mata dimungkinkan dan ditentukan oleh dasar turunan, misalnya : kalau ayahnya pintar, maka kemungkinan besar anaknya juga pintar. Para aliran nativisme berpandangan bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik atau buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir.
b. Empirisme
Aliran Empirisme bertentangan dengan paham aliran Nativisme. Empirisme (empiri=pengalaman), tidak mengakui adanya pembawaan atau potensi yang di bawaa lahir manusia. Dengan kata lain bahwa manusia itu lahir dalam keadaan suci, tidak membawa apa-apa. Karena itu, aliran berpandangan bahwa hasil belajar peserta didik bessar pengaruhnya pada faktor lingkungan. Dalam teori belajar mengajar, maka aliran empirisme bertolak dari lockean Tradition yang mementingkan stimulasi esksternal dalam perkembangan peserta didik.
pengalaman belajar yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari didapat dari dunia sekitarnya berupa stimulastimulantan. Stimulant ini berasal dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan. Tokoh perintis aliran empirisme adalah seorang filosof inggris bernama John Locke (1704-1932) yang mengembangkan “Tabula Rasa”,yakni anak lahir didunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman empiric yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak. Dengan demikian, dipahami bahwa aliran empirisme ini, seorang pendidik memegang peranan penting terhadap keberhasilan peserta didiknya.
c. Naturalisme
Naturalism merupakan aliran yang meyakini adanya pembawaan dan juga miieu (lingkungan). Namun demikian, ada dua pandangan besar mengenai hal ini. Pertama disampaikan oleh Rouseau yang berpendapat bahwa pada dasarnya manusia baik, namun jika ada yang jahat, itu karena terpengaruh oleh lingkungannya. Kedua, disampaikan oleh Mensius yang berpendapat bahwa pada dasarnya manusia itu jahat. Ia menjadi manusia yang baik karena bergaul dengan lingkungannya (Ahmad dan Uhbiyati, 1991: 296). Dua pendapat ini jelas memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Satu sisi memandang sisi jahat manusia bersumber dari lingkungan, sementara pendapat lain menyatakan bahwa sisi jahat itu sendiri yang justru berada pada diri manusia.
d. Konvergensi
Konvergensi dipelopori oleh William Stern. Gagasan Stern mengenai Konvergensi ini didasari pada teori sebelumnya, yakni nativisme dan empirisme. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa konvergensi merupakan gabungan antara dua teori tersebut. Hal ini dapat ditilik dari teori konvergensi yang menyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia itu bergantung pada faktor bakat/pembawaan dan faktor lingkungan. Pengalaman/pendidikan (Ahmadi dan Uhbiyati, 1991:294). Jika didefinisikan teori tersebut, maka jelas bahwa unsur nativisme dan empirisme membangun kedua teori tersebut. Hal itu tercermin pada, factor bakat merupakan gagasan teori nativisme sedangkan faktor lingkungan merupakan gagasan empirisme.
Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan ataupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peran yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu anak tersebut dilahirkan tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang baik sesuai dengan perkembangan bakat anak itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak akan menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak itu tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk dikembangkannya.
H. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar
Keberhasilan belajar mengajar merupakan hal yang sangat diharapkan guru dalam melaksanakan tugasnya, namun guru bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar tersebut. Menurut Syaiful Bahri Djamarah ada beberapa factor yang mempengaruhi keberhasilan belajar yaitu : “ Faktor tujuan, guru, peserta didik, kegiatan pengajaran, alat evaluasi, bahan evaluasi, dan suasana evaluasi”.
a. Faktor Tujuan
Tujuan adalah pedoman sekaligus sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan pembelajaran menggambarkan bentuk tingkah laku, kemampuan/kompotensi yang diharapkan dapat dimiliki siswa setelah proses pembelajaran. Perumusan tujuan akan mempengaruhi kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh guru dan akan secara langsung berpengaruh pada kegiatan belajar peserta didik. Guru dengan sengaja akan menciptakan lingkungan belajar guna mencapai tujuan, jika kegiatan belajar anak didik dan kegiatan pengajaran guru tidak searah maka tujuan pembelajaran akan gagal.
b. Faktor Pendidik
Menurut undang-undang Nomor 14 Tahun 2003, guru adalah tenaga pendidik yang professional yang bertugas mendidik, mengajar, melatih, membimbing dan mengevaluasi peserta didik. Guru adalah tenaga pendidik yang berpengaaman dalam bidang profesinya yang memberikan sejmlah ilmu pengetahuan, kepada siswanya di sekolah. Dengan ilmu yang dimiliknya, guru dapat menjadikan siswa yang menjadi cerdas dan memiliki pribadi yang baik. Setiap guru mempunyai kepribadian masing-masing sesuai dengan latar belakang kehidupan sebelum mereka menjadi guru. Kepribadian guru diakui sebagai aspek yang tidak bisa dikesampingkan dari keberhasilan belajar mengajar untuk mengantarkan siswa menjadi orang yang berilmu pengetahuan dan kepribadian baik.
c. Faktor Peserta Didik
Anak didik adalah orang yang sengaja dating ke sekolah, orang tuanya yang memasukannya untuk didik agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan di kemudian hari. Tanggung jawab guru tidak hanya terhaddap seorang anak, tetapi, dalam jumlah yang cukup besar. Anak dalam jumlah yang cukup besar itu tentu saja dari latar belakang kehidupan social keluarga yangberlainan dan mempunyai karakter yangberbeda pula. Kepribadian mereka ada yang pendiam, periang, suka bicara, kretaif, manja, intelektual mereka junga dengan tingkat kecerdasan yang berpariasi. Keadaan biologi merekapun berbeda. Karena itu, perbedaan anak pada sekolah biologis, intelektual dan psikologis ini dapat mempengaruhi kegiatan belajar mengajar.
d. Faktor Kegiatan Pengajaran
Keberhasilan pengajaran ditunjukan oleh dikuasainya tujuan pembelajaran oleh siswa, salah satu factor keberhasilan dalam pembelajaran adalah factor kegiatan pengajaran yang efektif tidak dapat muncul dengan sendirinya. Tetapi guru harus dapat menciptakan pembelajaran yang memungkinkan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara optimal. Pola umum kegiatan pengajarn adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak didik yang belajar. Gaya mengajar guru mempengaruhi gaya belajar anak didik.
e. Faktor Bahan dan Alat Evaluasi
Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat didalam kurikul yang sudah dipelajari anak didik guna kepentingan ulangan atau evaluasi. Biasanya bahan dikemas dalam bentuk buku paket, untuk dikonsumsi anak didik. Bila masa evaluasi tiba. Semua bahan sudah diprogramkan dan harus sudah selesai dalam jangka waktu tertentu dijadikan sebagai bahan dalam pembuatan item-item soal evaluasi.
f. Faktor Suasana Evaluasi
Factor suasana evaluasi merupakan factor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Hal yang perlu diperhatikan dalam suasana evaluasi adalah :;
1) Pelaksanaan evaluasi biasanya dilaksanakan di dalam kelas
2) Semua murid dibagi menurut tingkatan masing-masing
3) Besar sedikitnya anak didik dalam kelas
4) Berlaku jujur, baik guru maupun anak didik selama evaluasi tersebut
5) Sikap pengawas yang berlebihan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
{الصَّدَقَةُ تَرُدُّ البَلاَء وَتُطَوِّلُ العُمْرَ} “Sedekah itu menolak bala dan memanjangkan umur”.
-
A. Apa yang di maksud dengan pendidikan menurut Para Pakar dan UU ? a. Menurut Undang-undang 1. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang sisdikn...
-
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latarbelakang Masyarakat Baduy sejak dahulu memang selalu berpegang teguh kepada seluruh ketentuan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar